Berbagi informasi Hiburan, Tips & Trik, Edukasi dan Inspiratif

7.26.2018

Dibalik Sebuah Foto, Tersimpan Cerita Penuh Makna

Kisah Foto Yang Membuat Haru, Seorang Anak Peluk Hangat Sang Ayah..
Karena pemandangan di depannya, pegawai negeri sipil itu nyaris menitiskan air mata disebuah perjalanan di atas kereta api. Cerita bermula dari “pertemuannya” dengan seorang kakek tua di ruang tunggu penumpang Stasiun Jenar Purworejo, Jawa Tengah. Ia melihat kakek yang ditaksir berusia sekitar 75-80 tahun, duduk di ruang tunggu dengan anaknya, yang kira-kira usianya 50 tahunan.

Ternyata kemudian, pagi itu, ia dan dua orang yang disebut bapak-anak itu satu perjalanan di atas Kereta Api Prambanan Ekspress (KA Prameks) relasi Kutoarjo-Solo. Ia kebagian tempat duduk di depan keduanya, sehingga bisa melihat secara dekat dan jelas aktivitas mereka.

Singkat cerita, pandangan Restoris terus tertuju ke arah kedua penumpang “istimewa” di depannya. Ia melihat kakek itu tidak memakai alas kaki, hanya menggunakan kaos kaki.

Di dalam kereta, dua penumpang “istimewa” itu duduk berdampingan kursi. Sejurus kemudian, sekitar pukul 06.20 WIB, tiba-tiba kakek itu mengubah posisi duduknya. Ia bersandar dan berbaring di dada dan paha anak yang duduk di sisi kirinya. Kedua tangan dan kakinya dilipat, dirapatkan karena sempitnya kursi.



Seketika itu pula anaknya yang baru menerima panggilan telepon memeluk orangtua itu dengan tangan kanannya. Selesai menelepon, ia pun memeluk dengan kedua tangannya. Kehangatan itu seperti orangtua yang sedang memeluk anak yang masih kecil.

“Momen yang bikin saya terenyuh dan terharu dan berpikiran untuk mengabadikan,” ungkap PNS di Pemerintah Kabupaten Kulon Progo ini. “Saya melihat sesuatu yang membuat hati saya langsung merindukan orangtuaku, langsung membuat ‘trenyuh’ dan rasanya pengen meneteskan air mata.”

Episode keharuan itu bertambah saat pemandangan lain tertangkap oleh pandangan mata dan perasaan Restoris, saat masih dalam perjalanan itu.

Baca juga:
Kisah Nyata!! Target Murtadkan Muslim, Si Cantik Aktivis Gereja Ini Justru Dapat Hidayah
Kisah Inspiratif.. Hijrahnya Mantan Anak Punk, Berjilbab Dengan Tato di Wajah

“Awalnya saya cuma fokus untuk ambil gambar si anak dan si bapak tersebut,” tuturnya. “Tapi tiba-tiba pandangan saya juga tertarik pada kursi di sebelah beliau yang saat itu saya lihat (duduk) seorang bapak dan ibu sedang bercanda, gurau dengan cucunya.”

Pria 30 tahun ini tak sendirian hanyut dalam suasana “bawa perasaan”. Pemandangan di depannya juga mengundang “baper” banyak kalangan warga bahkan yang nun jauh darinya.

Pasalnya, momentum keakraban dua keluarga itu ia abadikan dengan kamera di genggamannya. Lalu, 30-60 menit kemudian, akunya, foto-foto kisah penuh kasih itu diunggahnya ke akun medsosnya di Facebook, pada hari “istimewa” itu, Rabu, 18 Oktober 2017.

Sontak saja, para pengguna media sosial dibikin terenyuh oleh kiriman Restoris berupa foto dan tulisannya. Jagat dunia maya mengharu biru. Sudah sepekan lebih kehangatannya masih terasa hingga kini, dibicarakan dan disyiarkan di berbagai media sosial, termasuk aplikasi berbagi foto, Instagram.

Kehangatan dua keluarga tersebut memang sangat menyentuh perasaan. Sebagaimana foto unggahan Restoris, di sisi kanan ada sepasang pria dan wanita berjilbab tampaknya suami-istri begitu akrab dengan seorang bocah laki mungkin anak atau cucunya. Tatapan ketiganya sama-sama mengarah pada sebuah telepon genggam, dengan raut wajah terlihat penuh senyum dan keceriaan. Melambangkan kebahagiaan.

Sementara di sisi kiri, seorang pria merangkul hangat orangtua berpeci yang wajahnya terlihat sudah mengerut. Kedua manusia beda generasi itu seakan berbicara dari hati ke hati. Melambangkan kedekatan, kesetiaan.

Sedangkan para penumpang lain tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Drama itu menampilkan siklus nilai-nilai kemanusiaan yang rasa-rasanya sudah jadi barang langka di era modern saat ini; Anak menyayangi orangtua dan Orangtua mengakrabi anak.

Widya Restianda, salah satu warganet, menggambarkan foto itu dengan sebuah komentar pada unggahan tersebut:

“Foto yang kanan seperti flashbacknya si bapak yang fotonya sebelah kiri, ketika dia dipeluk bapaknya dan diajak bercanda oleh bapak ketika ada maknya juga. Dan sekarang tinggal dia sama bapaknya dan sekarang giliran si bapak itu pula yang memeluk bapaknya. Sebuah ‘kebetulan’ yang luar biasa. MasyaAllah.”

“Saat itu pula saya teringat masa kecil saya. Dan terbayang bahwa ini seperti sebuah siklus kasih sayang. Dirawat dan kemudian merawat,” ungkap Restoris.

“Sayangi Orangtuamu”

Tapi ada yang ia sayangkan. “Saya belum sempat ngobrol dengan beliau-beliau yang ada di foto. Cuma sesekali terdengar obrolan antara si bapak yang memeluk anaknya dengan yang bapak dan ibu yang bawa cucu itu.”

Baca juga:
Memilukan!! Pria Ini Rela Menahan Lapar Demi Istrinya Yang Lumpuh

“Sepertinya mereka akan pergi ke Jogja/Solo untuk berobat/kontrol. Biasanya mereka naik bis, tapi ini mereka baru sekali nyoba pakai kereta api Prameks. (Tentang) itu yang samar-samar saya dengar dari percakapan (mereka),” ungkapnya.

Ia terpaksa berpisah dengan para penumpang “istimewa” itu karena ia harus segera turun di Stasiun Wates dan berganti kereta tujuan Jakarta. Jadinya, penumpang- penumpang itu sejauh ini belum ia ketahui identitasnya. Yang jelas, pesan-pesan moral tentang berkasih sayang dalam keluarga sudah menyebar luas di dunia maya, semoga bermanfaat.

Termasuk yang ia sampaikan kepada para pembaca:
“Sayangilah orang tuamu, sebagaimana orang tuamu menyayangimu, membesarkanmu, mendidikmu, dan merawatmu dengan sepenuh hati”

Sungguh pemandangan yg sangat sederhana ini mampu menggugah hati dan mengingatkan kita sebagai seorang anak untuk selalu menyayangi dan mencintai orang tua kita walaupun dengan cara yang cukup sederhana..

“Sedih, Mas, bacanya. Semoga nanti saya bisa seperti itu,” komentar Ananta Putra Achmad.
“Ya Allah beri hamba kekuatan dan kemampuan untuk selalu membahagiakan orangtua saya di dunia dan akhirat,”


Share:

6.28.2016

8 Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Bismillahirrohmaani Rohiim...
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru malah sebaliknya.

Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.


Kita simak langsung aja yuk satu-persatu:



DELAPAN KEBONGONA IBU didalam hidupnya: 

Sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah dan ibu kita?
Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Wassalam...

Cerita ini bermula ketika aku (penulis) masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, Ibu tidak lapar”

KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan.

Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, Ibu tidak suka makan ikan”

KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup.

Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, Ibu tidak capek”

KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam.

Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, Ibu tidak haus!”

KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan.

Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Ibu tidak butuh cinta”

KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Ibu punya duit”

Baca Juga: 
Dibalik Sebuah Foto, Tersimpan Cerita Penuh Makna
Curhatan Seorang Suami Tentang KESETIAAN, 'Ketika Digoda Wanita Lain"

KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, lalu kemudian ia berkata kepadaku : “Ibu tidak terbiasa”

KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan.

Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Ibu tidak kesakitan”

KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : "Terima kasih ibu!" Coba dipikir-pikir teman,

Namun, Apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum?
Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum?
Apakah ini benar?
Kalau ya, mari kita renungkan kembali lagi. 
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Dan Semoga tulisan ini dapat menjadikan nasehat dan bermanfaat untuk kita semua.
Amiin..


Share:

Blog Archive

Total Pageviews