Berbagi informasi Hiburan, Tips & Trik, Edukasi dan Inspiratif

8.04.2018

Biografi Singkat ‘Sang Jenius’ Albert Einstein

Tahukah Anda, banyak tokoh dunia dalam bidang ilmu pengetahuan, politik dan kesenian yang justru dianggap bodoh waktu masa kecilnya? Artikel ini akan memberikan beberapa info tentang Biografi Singkat ‘Sang Jenius’ Albert Einstein dan Kisah masa kecilnya yang dianggap sebagai anak yang yang ‘bodoh’. Artikel ini bertujuan memberi inspirasi pada para orang tua, bahwasnya memiliki anak yang ‘bodoh’ pada lingkungan sekitarnya bukanlah akhir dari segala-galanya. Bukan berarti masa depan anak itu tiada harapan. Kuncinya adalah bagaimana orang tua mengenali potensi anak tersebut, mendukung, dan mengembangkannya.



Albert Einstein.

Seorang imuwan terbesar di abad ke-20 ini merupakan penemu Teori Relativitas sehingga meraih Nobel Bidang Fisika Tahun 1921. Saat kecil, prestasi sekolahnya sangat jelek. Gurunya pun meminta orang tuanya mengeluarkan Einstein dari sekolah karena ‘‘Terlalu bodoh untuk belajar’’. Namun, ibunya membelikan Einstein sebuah biola, alat musik yang sangat disukai Einstein. Baginya, musik merupakan kunci kecerdasan. Teman-teman terdekatnya mengakui, Eisntein banyak menyelesaikan masalah fisika dan persamaan matematikanya saat melakukan inprovisasi dengan biolanya.

Masa Muda dan Pendidikan Albert Einstein.

Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman; sekitar 100 km sebelah timur Stuttgart. Bapaknya bernama Hermann Einstein, seorang penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani pekerjaan elektrokimia, dan ibunya bernama Pauline. Mereka menikah di Stuttgart-Bad Cannstatt.

Walaupun mereka keturunan Yahudi, Ibu Einstein memasukan anaknya ke sekolah dasar katholik pada umur 5 tahun selama tiga tahun. Kemudian pada umur delapan tahun di pindah ke Luitpold Gymnasium untuk mendapatkan pendidikan menengah pertama dan menengah ke atas.

Pada tahun 1894, perusahan ayahnya gagal dan memutuskan untuk pindah ke Itali, namun Einstein tetap tinggal di Munic untuk menyelesaikan pendidikanya di Luitpold Gymnasium. Pada umur enam belas tahun, Einstein mengikuti ujian masuk  Swiss Federal Polytechnic in Zürich, tapi gagal. Namun, hasil tes tersebut menunjukan nilai yang sangat baik dalam bidang fisika dan matematika. Melihat hal tersebut, Kepala Sekolah Swiss Federal Polytechnic menyarankan agar Einstein untuk mengambil Aargau Cantonal School di Aargau, Swiss. Pada September 1896 dan Einstein lulus dengan nilai sempurna pada mata pelajaran matematika dan fisika.

Baca juga: Mengenal Tokoh Tiga Serangkai dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Pernikahan dan Anak Albert Einstein

Pada tahu 1898, Einstein jatuh cinta kepada Mileva Maric, sorang Serbia yang merupakan teman kelasnya. Sebelum menikah secara resmi dengan Maric, mereka dikabarkan telah memiliki seorang putri bernama Lieserl. Namun berita tentang Lieserl tidak begitu jelas, kabar mengatakan anak pertama Einstein tersebut meninggal karena sakit. Albert Einstein menikahi Maric secara resmi pada bulan Januari 1903 dikaruniahi dua orang anak yaitu Hans Albert Einstein dan Eduard. Mereka cerai pada tanggal 14 Februari 1919. Einstein menikah dengan Elsa Lowenthal pada tanggal 2 Juni 1919 yang merupakan sepupunya sendiri. Mereka kemudian pindah ke Amerika pada tahun 1933. Sayangnya Elsa didiagnosa  mengidap penyakit jantung dan masalah ginjal dan meninggal di bulan Desember 1936.

Imigrasi ke Amerika

Di bulan Februari 1933 ketika Einstein berkunjung ke Amerika, dia memutuskan untuk tidak kembali ke Jerman selama menguatnya Nazi dibawah Adolf Hitler. Saat Einstein bersama istrinya ingin kembali ke Belgia pada bulan Maret, kapalnya diserbu oleh tentara Nazi dan dipaksa kembali ke Jerman. Beberapa bulan kemudian, Einstein menyadari bawah dirinya merupakan target pembunuhan atas dasar hukum yang berlaku di Jerman saat itu untuk kaum yahudi. Mengetahui hidupnya terancam, Einstein memutuskan pergi ke Belgia dan tinggal disana untuk tiga bulan sebelum tinggal di Inggris. Di bulan Oktober 1933, Einstein kembali ke Amerika dan bekerja di Universitas Princeton. Einstein mendapatkan kewarganegaraan Amerika pada tahun 1940.

Kematian Albert Einstein

Pada tanggal 17 April 1955, Albert Einstein mengalami pendarahan internal yang disebabkan oleh pecahnya abdominal aortic aneurysm. Einstein menolak untuk melakukan operasi, dia berkata "Saya ingin pergi ketika saya ingin. Hambar rasanya memperpanjang hidup dengan bantuan. Saya telah berbagi, sekarang waktuna untuk pergi. Saya akan melakukannya dengan Elegan." Dia meninggal di Rumah Sakit Princeton di pagi harinya pada umur 76. Selama autopsi, ahli patologi dari Rumah Sakit Princeton, Thomas Stoltz Harvey, menghapus otak Einstein untuk pengawetan tanpa izin dari keluarganya, dengan harapan bahwa ilmu saraf masa depan akan mampu menemukan apa yang membuat Einstein begitu cerdas.

Mungkin itulah yang dapat Indo' Carita paparkan tentang Biografi Singkat ‘Sang Jenius’ Albert Einstein semoga dapat menambah wawasan kita semua. Jika terdapat kesalahan baik berupa penulisan maupun isi, kami mohon kiritik dan saran yang membangun untuk perbaikan kedepannya Terima kasih..


Share:

7.25.2018

Mengenal Tokoh Tiga Serangkai dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Apakah kalian sudah tahu? Apa itu Tiga Serangkai? Tentu semua orang sudah pernah membacanya ketika duduk dibangku sekolah SMP, SMA. Tidak ada salahnya, kita kembali mengulang, mengingat tokoh-tokoh yang terlibat didalam Tiga Serangkai. Tiga Serangkai merupakan cikal bakal berdirinya suatu partai yang sangat terkenal dalam sejarah Indonesia, yaitu Indisce Partij. Tokoh Tiga Serangkai diantaranya adalah  E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hadjar Dewantara.


Organisasi ini adalah sebuah organisasi partai yang merupakan milik orang Indonesia dan Eropa yang pernah ada di Indonesia, dengan tujuan menyamakan visi dan misi dengan orang pribumi dengan pendatang yang berasal dari Belanda, maupun yang sudah menjadi keturunan campuran yaitu Indo-Belanda.

Tidak hanya itu, ketiga tokoh tersebut juga memiliki tujuan yang sama yakni untuk memerdekakan Negara Indonesia. Ketiganya sangat berani menentang pergerakan Belanda, terlebih Ki Hajar Dewantara yang mengkritik Belanda karena meminta uang kepada Rakyat Indonesia untuk memperingati 100 tahun bebas dari penjajahan Spanyol. Kritikan tersebut tertuang dalam surat kabar De Express dengan judul ‘All Ik’s Netherland Was’.

Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh yang tidak hanya terkenal sebagai tokoh Tiga Serangkai, namun pergerakan dan perjuangannya sangatlah di kenal dalam bidang kependidikan.


Namun tanpa kita disadari bahwa pendidikan memiliki efek yang sangat signifikan dalam proses kemerdekaan Negara Indonesia. Mengilhami dari hal tersebut, tokoh pendidikan yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini mendirikan Perguruan Taman Siswa, dengan ekspektasi agar para pelajar yang berasal dari rakyat jelata pun dapat merasakan yang namanya pendidikan seperti halnya orang-orang yang datang dari kalangan ningrat.

Pahlawan Nasional yang lahir di Yogyakarta ini memiliki tanggal lahir yang diabadikan oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional, karena mengingat sangat banyak jasa-jasa Ki Hajar Dewantara dalam perkembangan pendidikan di era penjajahan kolonial Belanda.


Semboyan beliau yang sangat terkenal yaitu ‘Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut Wuri Handayani’ yang memiliki makna Di depan menjadi teladan. Di tengah membangun semangat. Dari belakang mendukung.

Semboyan tersebut sampai sekarang ini diabadikan menjadi semboyan Dinas Pendidikan Nasional. Demi mengingat perjuangan pemerintah dan mengabadikan namanya menjadi nama salah satu kapal perang milik Negara Republik Indonesia.

Tidak sampai disitu saja, dalam uang pecahan Rp. 20.000 juga terpatri potret beliau sebagai perwujudan akan semangat pengajaran yang beliau contohkan kepada bangsa Indonesia. Inilah sedikit ulasan mengenai Tokoh Tiga Serangkai. Semoga bisa menjadi Teladan bagi kita semua yah.


Share:

Blog Archive

Total Pageviews